Senin, 06 Februari 2017

Sepenggal Kisah Dari Kota Kecil Bernama Blora


Ditemani rintik rintik hujan, rasanya sudah cukup lama aku tidak menulis di blog kesayangan. Karena kesibukan kerja, kuliah dan belum ada bahan untuk ditulis. Perkenalkan nama ku Finda, walau aku lahir di ibu kota yaitu Jakarta dengan bangga aku akan mengatakan aku berasal dari Blora. Yah Blora sebuah kota kecil yang sebagian penduduk Jakarta tidak begitu familiar dengan nama tersebut, lebih mengenal kota Semarang atau lainnya.

Sebelumnya aku akan jelaskan asal usul nama Blora sendiri,











Kabupaten Blora (bahasa Jawa: Hanacaraka ꦨ꧀ꦭꦺꦴꦫ​) adalah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Blora, sekitar 127 km sebelah timur Semarang. Berada di bagian timur Jawa Tengah, Kabupaten Blora berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur.

Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati di utara, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) di sebelah timur, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di selatan, serta Kabupaten Grobogan di barat.
Blok Cepu, daerah penghasil minyak bumi paling utama di Pulau Jawa, terdapat di bagian timur Kabupaten Blora.

Wilayah Kabupaten Blora terdiri atas dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-280 meter dpl. Bagian utara merupakan kawasan perbukitan, bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara. Bagian selatan juga berupa perbukitan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, yang membentang dari timur Semarang hingga Lamongan (Jawa Timur). Ibukota kabupaten Blora sendiri terletak di cekungan Pegunungan Kapur Utara.

Separuh dari wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan, terutama di bagian utara, timur, dan selatan. Dataran rendah di bagian tengah umumnya merupakan areal persawahan.

Sebagian besar wilayah Kabupaten Blora merupakan daerah krisis air (baik untuk air minum maupun untuk irigasi) pada musim kemarau, terutama di daerah pegunungan kapur. Sementara pada musim penghujan, rawan banjir longsor di sejumlah kawasan.

Kali Lusi merupakan sungai terbesar di Kabupaten Blora, bermata air di Pegunungan Kapur Utara (Rembang), mengalir ke arah barat melintasi kota Purwodadi yang akhirnya bergabung dengan Kali Serang.

Berdasarkan tutur bahasa Jawa, dialek bahasa Jawa Blora merupakan bahasa pergaulan dan termasuk tataran ngoko atau bahasa kasar. Jadi, di daerah Blora tataran Krama (halus) maupun Madya (biasa, campuran krama dan ngoko) tetap digunakan selain tataran dialek pergaulan ngoko kasar tersebut.

Madya adalah salah satu tingkatan bahasa Jawa yang paling umum dipakai di kalangan orang Jawa. Tingkatan ini merupakan bahasa campuran antara ngoko dan krama, bahkan kadang dipengaruhi dengan bahasa Indonesia. Bahasa madya ini mudah dipahami dan dimengerti.

Bahasa yang digunakan di daerah kabupaten Blora adalah bahasa Indonesia dan bahasa Jawa Blora dalam tingkat tutur ngoko, madya maupun krama oleh penggunanya masing-masing.

Kabupaten Blora terdiri atas 16 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 271 desa dan 24 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Blora. Di samping Blora, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Cepu, Jiken, Ngawen, Randublatung, dan Kunduran.

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Blora


Wisata kuliner :


1. Lontong tahu blora

Pasti semua sudah mengenal makanan yang satu ini. Selain enak juga harga pas dikantong 1 porsi diharga Rp. 8000. Setiba dirumah aku langsung cussss ke pasar yang terletak di dekat alun alun untuk menikmati lontong tahu blora. Untuk tempat sendiri aku rasa hampir semua ada yang jual dan rata rata enak loh. Jadi ini rekomended untuk urusan rasa, harga dan cara meraciknya sendiri masih tradisional. Hmmmm,,lekerrr




2. Sate Blora




Mungkin para pembaca sudah sering mendengar dan mencoba makanan sate, Sate yang kita kenal sama seperti lainnya Namun berbeda dengan sate blora sendiri, entah mengapa aku merasakan sendiri rasanya sangat khas dan berbeda dengan kuah berwarna orange kecoklatan yang berasal dari sisa rebusan daging ayamnya sendiri. Eiitsss untuk rasa dan harga dijamin ga bikin kantong jebol. Andalan sate blora ini adanya di tempat makan sate blora yang terkenal dekat pasar / alun alun kota blora. Tinggal dipilih mau yang mana hihihi

3. Sempol




Pertama kali melihat nama ini ketika sedang jalan jalan ke alun alun, tanpa sengaja ku tertuju dengan tulisan bernama " SEMPOL BALADO". Langsung tanpa ragu menghampir sang penjual, ga panjang lebar langsung aku tanya berapa harganya walau harga sudah dipampang jelas di kaca. Maklum ndesoo, disela sela penjual kebetulan digantikan oleh istrinya yang sebelumnya suaminya yang melayani.



Pertanyaan dan keingintahuan ku muncul, apa itu sempol ? Sempol sendiri terbuat dari terigu yang dicampur daging dibentuk bola bola semacam bakso goreng jika di Jakarta. Pada saat proses digoreng setengah matang lalu terakhir di lumuri telur dan digoreng kembali. Tapi sumpahh rasa yang ini lebih enak berada baksonya dan sangat murah. Sempat muncul pertanyaan Ko murah sih pak, apa tidak merugi Ibu penjual menjawab harga disini rata rata Rp. 500, dan kebanyakan di jual di sekolahan. Karena kebetulan waktu aku beli pas libur natal. Di Jakarta belum ada yang jual seperti ini, palingan telur gulung aja yang menggunakan mie bihun dibalut telur.

Untuk kalian yang berkunjung ke kota ini jangan lupa untuk dibeli ya. Penjualnya sangat ramah, melayani semua pertanyaan ku, maklum baru pertama kali liat makanan ini.

Wisata tempat :


1. Klenteng Hok Tik Bio



Foto ini aku ambil malam hari sepulang dari wisata kuliner di alun alun blora, maaf jika gambar kurang jelas. Klenteng ini berada di jalan pemuda no 38. Menurut sejarah klenteng ini berdiri sejak tahun 1890 dan menjadi klenteng tertua di Blora. Pada waktu melihat klenteng ini rasa kagum ku muncul. Disaat isu ras mulai hinggap ditengah masyarakat, dikota ini tidak terdengar masalah ras, agama dan golongan. Semua damai dan rukun dengan bermacam, suku, budaya dan agama. Untuk yang satu ini rekomended buatt kalian yang ingin explore ke kota blora dan klenteng ini dibuka untuk umum.

2. Rumah Dinas Bupati Blora







Keseruan dimalam terakhir mengunjungi Blora adalah rumah dinas bupati blora. Rumah dinas ini berada tepat diseberang alun alun kota blora. Dimalam terakhir ini aku menikmati jajanan, musik jalanan, serta melihat para penduduk sekitar yang lebih banyak menghabiskan waktu keluarga di alun alun. Bisa dilihat sendiri rumah dinas bupati sudah begitu rapih dengan tatanan yang apik sekali. Oh ya tempat ini juga dimanfaatkan pemuda sekitar menyalurkan hobi, terlihat seperti bmx, skateboard bahkan band.

Untuk menikmati waktu dan explore di kota ini tidak cukup hanya 2 hari. Maklum untuk liburan ku kali ini hanya 5 hari itu pun sudah dengan perjalanan yang memakan waktu sehari semalam pulang pergi. Rasanya ingin kembali tapi dengan libur dan persiapan transportasi yang matang. Maklum aku ini kreatif ( kere dan aktif ) hahaha.Mungkin sekian dulu cerita asal usul kota kelahiran dari ibu ku sendiri. Yang paling aku suka apa lagi kalau bukan explore tempat dan makanan yang rekomended banget.

Jujur aja terakhir aku kesana 5 tahun lalu, dan berbeda jauh dari sekarang. Sekarang kota ini lebih maju ramai, dan lebih hidup ketimbang sebelumnya. Oh ya yang paling sulit adalah masalah transportasi disana, jadi belum semua ke explore seperti wisata di daerah todanan dan lainnya.



Matusuwun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar